Antisipasi Mogok di Musim Hujan
Saat hujan atau banjir datang komponen motor pada sistem kelistrikan dan pengapian harus mendapat perhatian ekstra.
Musim hujan tiba, hampir tidak ada hari tanpa hujan. Bagi pengendara motor musim hujan memang jadi waktu yang merepotkan. Persiapan yang dilakukan harus lebih komplet. Misalnya saja menyiapkan jas hujan. Maklum saja kadang turunnya hujan tak bisa diprediksi. Hujan juga membuat jalan-jalan sering kerendam air alias banjir, ini juga jadi hal yang merepotkan. Rute atau jalan terdekat yang biasa dilalui tergenang air hujan. Dalam kondisi tertentu tak ada pilihan lain selain menerjang genangan air tersebut. Akibatnya bisa ditebak, sepeda motor yang dikendarai pun mogok.
Sepertinya sudah jadi pemandangan umum jika hujan deras datang banyak motor di jalan yang harus berhenti karena mogok. Nah, sebenarnya hal apa saja yang menyebabkan motor mogok saat hujan atau banjir dan bagaimana mengantisipasinya. Kepala Mekanik Ahass Putra Merdeka Cibubur, Anvany Irawan mengatakan motor mogok saat banjir itu tergantung tipenya. Motor matik dan bebek memiliki posisi busi dan knalpot yang lebih rendah, sehingga rawan kemasukan air saat banjir. Berbeda dengan motor sport posisi busi dan knalpot lebih tinggi.
Menurut Anvary, ada dua hal penting yang harus diperhatikan saat hujan dan motor terpaksa menerjang banjir yang tinggi. Pertama air jangan sampai melebihi busi, kedua air jangan melebihi knalpot. Jika terpaksa harus melewati banjir yang tingginya di atas knalpot, lanjut dia, usahakan gas jangan sampai tertutup. Ini dilakukan agar air tidak masuk knalpot.
Lalu bagaimana jika motor akhirnya mogok, apa yang harus dilakukan ? Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Oktaviano, mengatakan motor mogok saat banjir atau hujan umumnya terjadi karena ada gangguan busi, sehingga proses pengapian tidak berjalan sempurna dan mesin pun mati. Biasanya itu terjadi karena busi kerendam air,” kata Diko. Jika sudah demikian busi harus segera dilepas dan dikeringkan, lalu dipasang kembali.
Pada dasarnya bentuk fisik mampu melindungi komponen yang ada di dalam kendaraan dari gangguan seperti hujan. “Selama tidak ada yang bocor pada sistem pengapian atau kelistrikan sebenarnya motor aman”,ujarnya kepada Sindo Weekly. Lain lagi ceritanya jika air sudah masuk ke ruang bakar, maka busi mutlak harus diganti, sebab busi sudah pasti berkarat.
Kendaraan mogok sebenarnya tidak hanya terjadi saat musim hujan saja. Proses pengapian yang tidak sempurna akibat busi jarang diganti bisa mengakibatkan mesin mati mendadak. Itu sebabnya Diko menyarankan agar pengguna kendaraan lebih peduli terhadap kondisi busi. Jangan sampai busi yang harganya tidak seberapa malah membuat kerusakan fatal pada kendaraan yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang lebih besar lagi.
Ada beberapa resiko yang dihadapi saat busi yang sudah waktunya diganti tapi masih terus digunakan. Reskiko tersebut mulai dari engine idle tidak stabil, akselarasi menurun, mesin sulit hidup saat start engine hingga boros bahan bakar. “Akibat busi yang tidak diganti secara berkala bisa membuat mesin mati mendadak di tengah jalan. Ini jelas sangat membahayakan pengguna kendaran,” ujar Diko Oktaviano saat acara journalist coaching clinic yang diselenggarakan PT NGK Busi Indonesia beberapa waktu yang lalu.
Masa Pakai Terbatas
Membiarkan kerusakan pada busi akan mengakibatkan efek berantai pada sistem pengapian. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada busi maupun pada komponen sebelum busi. Komponen itu seperti spark plug wires, cap & rotor, coil, dan juga accu. Untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengganti busi, menurut Diko, secara umum ada dua hal yang perlu diperhatikan.
Pertama kondisi busi khususnya pada bagian elektroda, rusak atau tidak. Kedua sudah berapa lama (jarak ) pemakaian kendaraan. Busi berbeda dengan pelumas, meskipun kendaraan tidak digunakan dalam jangka waktu lama, pelumas harus diganti. Sementara busi, meskipun kendaraan diparkir dalam waktu panjang, namun kondisinya masih baik dan kilometer kendaraan belum mencapai sekitar 6.000 km untuk sepeda motor dan sekitar 20.000 km untuk mobil, tidak perlu diganti.
Dijelaskan oleh Diko batas angka 6000 Km untuk sepeda motor dan 20.000 Km untuk mobil mengacu pada rekomendasi yang dikeluarkan oleh NGK untuk penggunaan busi standar. Rekomendasi ini berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan busi standar pada berbagai mesin kendaraan.
Dalam uji tersebut tingkat kerusakan (keausan) pada busi rata-rata kendaraan akan dimulai pada 6,000 Km untuk motor dan 20,000 Km pada mobil. Saat itu, boleh jadi busi masih bisa digunakan, namun pengguna kendaraan sudah harus mengetahui bahwa kerusakan busi sudah dimulai.
Tentunya hasil akan berbeda pada setiap kendaraan bergantung pada merek dan jenis mesin yang digunakan. Untuk mengetahui dengan pasti kapan sebaiknya busi kendaraan diganti berdasarkan kilometer penggunaan ada baiknya melihat manual book yang dikeluarkan oleh pabrikan masing-masing kendaraan.
Sebagai teknisi kendaraan yang berpengalaman Diko menyarankan agar busi diganti setelah dua kali pergantian oli. “Jadi rumusnya 2:1, dua kali ganti oli, satu kali ganti busi,”ujarnya. Diko menambahkan, perhitungan itu didasari dengan titik pertama ketika busi mengalami erosi atau pengurangan dimensi alias pelebaran jarak. Pelebaran jarak yang dimaksud adalah jarak antara elektroda pusat dan elektroda massa (ground).
Sebagaimana fungsinya, busi akan memercikan api ketika terjadi proses pembakaran dalam mesin. Akibat percikan api inilah kemudian memicu mesin bekerja. Percikan api yang terjadi menimbulkan kerak atau karbon. Semakin banyak karbon yang menumpuk di busi, ujung busi akan menghitam. Disinilah waktu untuk mengganti busi. Menurut Diko harus disadari oleh pengguna kendaraan bahwa busi memiliki masa pakai yang terbatas. Komponen ini tidak bisa dipaksakan terus-menerus dalam top performance. Setelah dipakai selama periode tertentu, performa busi akan menurun."Busi tidak bisa dipakai terus menerus, memang ditakdirkan untuk rusak, “ kata Diko.
Ada baiknya di saat musim hujan seperti saat ini, jadi waktu yang tepat untuk melihat kondisi busi. Apakah memag sudah saatnya diganti. Mengganti busi secara berkala, membuat berkendara lebih nyaman, aman dan selamat
Sumber : http://www.sindoweekly.com/automotive/daily/21-12-2018/antisipasi-mogok-di-musim-hujan
Next Stories
Touring Aman karena Mengetahui Takdir Busi
Komponen kendaraan yang satu ini memang ditakdirkan untuk rusak. Pengguna keendaraan harus memahami kapan busi harus diganti. Libur akhir tahun te...
NGK Bekali Komunitas Jurnalis Ilmu Busi
Jakarta: Menekuni dunia otomotif dan tiap hari berkutat dengan industri otomotif hingga ke bengkel-bengkel, bukan berarti membuat jurnalis otomotif se...
NGK Busi Indonesia Tuai Penjualan Positif di Tahun 2018
GridOto.com - Jelang tutup tahun 2018, PT NGK Busi Indonesiamengklaim alami penjualan yang positif. Dipercaya sebagai pemasok busi resmi berbagai mod...
Ngabuburit Komunitas Honda Jakarta. Riding Sambil Cari Ilmu
Tidak sekadar riding saja, kegiatan ngabuburit yang dilakukan Asosiasi Honda Jakarta (AHJ) penuh makna. Selain riding, mereka juga mengisi kegiatan...